Kepemimpinan itu bukanlah bagaimana kita, seorang pemimpin, berusaha menjadi seorang pemimpin. Maksudnya yaitu, ketika kita semakin NGOTOT untuk menunjukkan kepada orang – orang yang kita pimipin bahwa kita adalah seorang pemimpin, maka disitulah kita sedang menunjukkan bahwa kita bukan seorang pemimpin.
Kenapa? Karena ketika kita melakukan hal tersebut, ada unsur KESOMBONGAN DIRI di dalam hati kita yang terungkapkan lewat tindakan kita tadi. Dan salah satu karakteristik (ciri – ciri) pemimpin yang baik itu adalah rendah hati. Apa dasarnya? Keteladanan hidup Yesus.
Menjadi seorang pemimpin itu dimulai dari membangun HUBUNGAN (RELATIONSHIP). Dasar dari hubungan yang baik iitu berawal dari lingkungan keluarga kita, yaitu tempat dimana kita bertumbuh hingga sekarang.
Jenis – jenis hubungan:
- Hubungan dengan Ayah dan Ibu.
- Hubungan dengan Kakak dan Adek.
- Hubungan dengan Teman dan Saudara.
Kualitas hubungan kita dengan Ayah dan Ibu kita akan SANGAT MENENTUKAN kualitas kepemimpinan kita. Apa dasarnya? Firman Tuhan.
Matius 22:39
“Kasihilah sesamamu manusia, seperti dirimu sendiri”
Artinya, sejauh (sebanyak) kita mengasihi (menyayangi, merawat, menjaga) diri kita sendiri, sejauh (sebanyak) itulah kita akan mengasihi (menyayangi, merawat, menjaga) orang lain.
Kaitannya apa antara Kepemimpinan dengan Hubungan kita dengan Ayah dan Ibu?
Pertama kali kita mengenal dan mendapatkan kasih adalah dari Ayah dan Ibu kita. Dari mereka lah kita mengerti apa arti kasih. Nah, disinilah masalah itu terjadi. Tidak banyak Ayah – ayah dan Ibu – ibu tahu cara memberi kasih yang sebenarnya. Kebanyakan dari mereka pun juga TIDAK PERNAH MENDAPATKAN kasih yang sebenarnya dari Ayah dan Ibu mereka. Sehingga hal ini berakibat pada anak – anak mereka, kita semua yang ada sekarang.
Karena kebanyakan kita TIDAK MENDAPATKAN kasih yang sebenarnya dari Ayah dan Ibu kita, maka kita pun TIDAK MAMPU MEMBERIKAN KASIH YANG SEBENARNYA kepada orang – orang disekitar kita yaitu, teman – teman kita, saudara kita, om dan tante kita, kakek nenek kita.
Bentuk nyatanya adalah banyaknya pemimpin yang TIDAK MEMPUNYAI KEPEMIMPINAN yang baik. Bagaimana mungkin seorang pemimpin dapat MEMBERIKAN KASIH kepada orang – orang yang dipimpinnya, sedangkan dirinya sendiri TIDAK PERNAH MENDAPATKAN KASIH YANG SEBENARNYA??
Woooow!!?? Sungguh sebuah fakta yang sangat mengejutkan kan?!
Lalu bagaimana bentuk kasih yang sebenarnya?
1 Korintus 13:4-8 mengatakan demikian,
“Kasih itu sabar; kasih itu murah hati; ia tidak cemburu. Ia tidak memegahkan diri dan tidak sombong. Ia tidak melakukan yang tidak sopan dan tidak mencari keuntungan diri sendiri. Ia tidak pemarah dan tidak menyimpan kesalahan orang lain. Ia tidak bersukacita karena ketidakadilan, tetapi karena kebenaran. Ia menutupi segala sesuatu, percaya segala sesuatu, mengharapkan segala sesuatu, sabar menanggung segala sesuatu. Kasih tidak berkesudahan.”
- Sabar,
- Murah hati,
- Tidak Cemburu,
- Tidak memegahkan diri (Tidak SOMBONG),
- Tidak melakukan yang tidak sopan,
- Tidak mencari keuntungan sendiri,
- Tidak pemarah,
- Tidak menyimpan dendam / kesalahan orang lain,
- Bersukacita karena kebenaran (melakukan yang benar),
- Percaya segala sesuatu (mengharapkan yang terbaik),
- Sabar dalam menanggung segala sesuatu,
- Kasih tidak berkesudahan (kekal, abadi)
Itulah salah satu PENJELASAN PALING TERINCI tentang Kasih yang ada di alkitab.
Kita bisa melihat apakah diri kita sudah mendapatkan kasih itu dan memberikannya kepada orang lain? Dalam arti, kita mendapatkan secara KONSISTEN dan memberikannya juga dengan KONSISTEN, bukan hanya sekali – sekali saja. Itulah yang dimaksudkan dengan menjadi seperti Yesus, karena Yesus adalah Kasih (1 Yoh 4:16)
Lalu, setelah panjang lebar atas penjelasan tadi bagaimana APLIKASI atau CARA MENGHIDUPI KEPEMIMPINAN yang baik?
LANGKAH PERTAMA.
Pulihkan HUBUNGAN kita dengan orang yang memberikan KASIH kepada kita pertama kali, Ayah dan Ibu kita. Caranya?
Periksa hati kita, apakah ada DENDAM, KEJENGKELAN, KEKESALAN, AMARAH, KETIDAKPUASAN kepada Ayah dan Ibu kita sejak kita kecil sampai usia sekarang? Jika ada, kenali hal itu satu per satu, lalu MINTA AMPUN KEPADA Tuhan atas setiap hal tersebut.
Kenapa?
Karena dalam firman Tuhan ada tertulis “Kita tahu, bahwa Allah tidak mendengarkan orang-orang berdosa, melainkan orang-orang yang saleh dan yang melakukan kehendak-Nya”
Dan Tuhan juga tidak akan mengampuni dosa kita jika kita tidak mengampuni dosa orang lain terhadap kita.
LANGKAH KEDUA.
Jika kita sudah mengaku dosa kita dan meminta ampun kepada Tuhan, maka langkah berikutnya adalah MENDATANGI dan MENGHADAPI Ayah dan Ibu kita.
Caranya?
Datang dengan sikap hati yang ingin DIPULIHKAN, karena ada tertulis “Saling mengaku dosa dan saling mendoakan, supaya KAMU SEMBUH” – Yakobus 5:16.
Ada PRINSIP yang sangat hebat dalam pelaksanaan ayat firman Tuhan diatas, PEMULIHAN HANYA AKAN TERJADI JIKA KITA SALING MENGAKU DOSA DAN SALING MENDOAKAN.
Petunjuk dalam mendatangi Ayah dan Ibu kita adalah:
- Jangan datang dengan sikap yang MENUDUH dan MENGHAKIMI, bahwa semua ini adalah kesalahan Ayah dan Ibu. Ingatlah bahwa mereka pun TIDAK MENDAPATKAN KASIH yang sebenarnya dari Ayah dan Ibu mereka.
- Jangan terlalu RINCI / DETAIL dalam menjelaskan kenapa kita mempunyai dendam kepada mereka, FOKUS PADA PEMULIHAN.
- Katakan kepada Ayah dan Ibu bahwa kita pernah menyimpan kejengkelan, kemarahan, ketidakpuasan dalam kalimat yang UMUM, dan kita tahu bahwa itu tidak benar dihadapan Tuhan. Dan kita datang untuk meminta maaf kepada mereka atas hal itu.
LANGKAH KETIGA.
Hidupi PEMULIHAN itu.
Maksudnya adalah, JANGAN MEMILIH LAGI untuk melakukan hal – hal yang TIDAK MENGANDUNG KASIH. Apapun yang kita lakukan kepada orang lain dan orang – orang yang kita pimpin HARUS BERDASARKAN Kasih.
Saat kita, dengan setia, terus mempraktekkan kasih dalam kehidupan kita, disitulah Kepemimpinan kita bertumbuh dengan BAIK. Standar BAIK disini bukan standar yang tidak jelas, tapi standar nya Tuhan, firmanNya.







Recent Comments